ABSTRAK
Telah dilakukan percobaan dengan judul “Konsentrasi Larutan” yang bertujuan agar praktikan mampu menjelaskan, menghitung, dan membuat larutan dengan konsentrasi tertentu, menstandarisasi larutan standar, serta mempelajari penentuan konsentrasi larutan dengan teknik titrasi. Adapun metode yang digunakan pada percobaan ini adalah metode titrasi asidimetri dengan prinsip percobaan analisa kuantitatif. Persen berat yang dihasilkan dari larutan NaCl sebanyak 9,09%, persen volume alkohol sebesar 18,18% dan persen volume air sebanyak 81,81% , persen berat per volume gula pasir yang dihasilkan sebanyak 7 % serta konsentrasi NaOH yang dihasilkan melalui proses titrasi adalah 0,0415 N. Kesimpulan dari percobaan ini adalah konsentrasi larutan dipengaruhi oleh banyaknya zat terlarut dalam sebuah pelarut atau larutan itu sendiri.konsentrasi dapat ditentukan dengan menggunakan metode titrasi. Serta titik akhir titrasi ditandai dengan terjadinya perubahan warna indikator.
BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Konsentrasi larutan dapat diartikan sebagai jumlah zat terlarut dalam setiap larutan atau perlarut. Penentuan konsentrasi larutan merupakan hal yang perlu dilakukan sebelum mereaksikan suatu zat dengan zat lainnya. Hasil dari reaksi juga ditentukan dari besar konsentrasi zat yang saling bereaksi. Konsentrasi berhubungan erat dengan larutan yang merupakan penentu banyaknya zat terlarut dalam sebuah pelarut. Sehingga untuk menghitung atau menentukan konsentrasi larutan dibutuhkan pengetahuan tentang larutan itu sendiri.
Keadaan suatu larutan selalu bergantung pada konsentrasi zat terlarutnya. Larutan adalah campuran yang bersifat homogen. Dalam suatu larutan biasanya terdiri dari satu atau lebih zat terlarut dan satu zat pelarut. Air adalah zat pelarut universal yang artinya dapat digunakan untuk melarutkan zat apa saja yang tidak memiliki kereaktifan besar. Perbandingan antara zat terlarut dan pelarutnya dapat digunakan untuk menentukan persentasekonsentrasi zat tersebut , atau dengan menggunakan metode titrasi pada larutan yang belum diketahui konsentrasinya, dengan larutan standar. Larutan standar adalah larutan yang telah diketahui dengan pasti konsentrasinya.
Pelarut merupakan komponen utama yang terdapat dalam jumlah banyak, sedangkan komponen minornya merupakan zat terlarut. Larutan terbentuk melalui pencampuran dua atau lebih zat murni yang molekulnya berinteraksi langsung dalam keadaan tercampur. Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan metode titrasi pada larutan basa, sehingga praktikan dapat menentukan konsentrasi suatu zat yang belum diketahui konsentrasinya . Pembuatan larutan seperti mecampurkan NaCl dengan air atau alkohol dengan air dan mengencerkan padatan gula dengan air hingga terbentuk larutan gula dengan konsentrasi tertentu. Praktikan akan mampu membuat larutan dan menghitung berapa banyak zat terlarut dalam larutan tersebut.
2. Tujuan Percobaan
Percobaan konsentrasi larutan dilakukan dengan tujuan agar praktikan mampu menjelaskan, menghitung dan membuat larutan dengan konsentrasi tertentu, dapat menstandarisasi larutan standar, serta mempelajari penentuan konsentrasi larutan dengan teknik titras.
3. Manfaat Percobaan
Manfaat dilakukannya percobaaan konsentrasi larutan adalah praktikan dapat membedakan larutan dengan menentukan konsentrasi dari larutan tersebut. Praktikan juga dapat melakukan metode penentuan konsentrasi, salah satunya ialah metode titrasi. Dapat membuat larutan dan mengetahui persentase jumlah zat terlarut dalam larutan.
BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Salah satu persoalan yang sering dihadapi dalam ilmu kimia adalah menentukan komposisi dari suatu zat atau campuran zat. Sebutan yang diberikan pada penentuan percobaan komposisi kimia adalah analisis kimia. Suatu penerapan penting dari stoikiometri di laboratorium adalah analisis unsur-unsur untuk menentukan komposisinya. Pengukuran didasarkan pada massa yamg dinamakan gravimetri, dan pengukuran yang dilakukan berdasarkan volume larutan dinamakan volumetri atau titrasi. Titrasi adalah metode yang digunakan untuk menguji konsentrasi larutan dengan larutan standar (Brady , 1994).
Larutan merupakan fase yang setiap hari ada disekitar kita. Suatu sistem homogen yang mengandung dua atau lebih zat yang masing-masing komponennya tidak bisa dibedakan secara fisik disebut larutan, sedangkan suatu sistem yang heterogen disebut campuran. Suatu larutan adalah campuran homogen yang terdiri atas dua atau lebih zat. Suatu larutan disebut suatu campuran karena susunannya dapat berubah-ubah. Disebut homogen karena susunannya begitu seragam sehingga tak dapat diamati adanya bagian-bagian yang berlainan. Dalam campuran heterogen permukaan-permukaan tertentu dapat dideteksi antara bagian-bagian atau fase-fase yang terpisah (Keenan, 1990).
Larutan standar adalah larutan yang konsentrasinya sudah diketahui secara pasti. Berdasarkan kemurniannya larutan standar dibedakan menjadi larutan standar primer dan larutan standar sekunder. Larutan standar primer adalah larutan standar yang dipersiapkan dengan menimbang dan melarutkan suatu zat tertentu dengan kemurnian tinggi. Larutan standar sekunder adalah larutan standar yang dipersiapkan dengan menimbang dan melarutkan suatu zat tertentu dengan kemurnian relatif rendah sehingga konsentrasi diketahui dari hasil standarisasi. Standarisasi larutan merupakan metode yang digunakan untuk menentukan konsentrasi suatu larutan dengan bantuan larutan standar (Underwood, 1999).
Sistem homogen yang mengandung dua atau lebih zat disebut larutan. Biasanya larutan dianggap sebagai cairan yang mengadung zat terlarut, misalnya padatan atau gas. Komponen utama biasanya disebut pelarut, dan komponen minornya dinamakan zat terlarut. Pelarut dipandang sebagai pembawa atau medium bagi zat terlarut, yang dapat berperan serta dalam reaksi kimia dalam larutan atau meninggalkan larutan karena pengendapan atau penguapan. Uraian mengenai gejala ini memerlukan spesifikasi kuantitatif mengenai banyaknya zat terlarut dalam larutan, atau komposisi larutan. Larutan terbentuk melalui pencampuran dua tau lebih zat murni yang molekulnya berinteraksi langsung dalam keadaan tercampur. Perubahan gaya antar molekul yang dialami oleh molekul dalam bergerak dari zat terlarut murni atau pelarut ke keadaan tercampur mempengaruhi baik keadaan pembentukan maupun kestabilan larutan (Oxtoby, 2001).
Konsentrasi larutan menyatakan secara kuantitatif komposisi zat terlarut dan pelarut di dalam larutan. Konsentrasi pada umumnya dinyatakan dalam perbandingan jumlah zat terlarut dengan jumlah pelarut. Contoh beberapa satuan konsentrasi adalah molar, molal, dan bagian per juta (part per million). Sementara itu, secara kualitatif, komposisi larutan dapat dinyatakan encer(berkonsentrasi rendah) atau pekat (berkonsentrasi tinggi).Molekul komponen-komponen larutan berinteraksi langsung dalam keadaan tercampur. Pada proses pelarutan, tarikan antar partikel komponen murni terpecah dan tergantikan dengan tarikan antar pelarut dengan zat terlarut. Terutama jika pelarut dan zat terlarutnya sama-sama polar, akan terbentuk suatu struktur zat pelarut mengelilingi zat terlarut, hal ini memungkinkan interaksi antara zat terlarut dan pelarut tetap stabil bila komponen zat terlarut ditambahkan tidak akan dapat larut lagi (Oxtoby, 2001).
Konsentrasi larutan dapat dinyatakan dengan beberapa cara, seperti persen berat (w/w), persen volume (v/v), molaritas (M), molalitas (m), bagian per sejuta (ppm), fraksi mol (x) dan normalitas (N).Persen berat (w/w) menyatakan banyaknya gram zat terlarut dalam 100 gram larutan. Rumus dari persen berat adalah %(w/w) = Massa Komponen / Massa Campuran x 100%. Persen Volume (v/v) menyatakan mL zat terlarut dalam 100 mL larutan. Persen volume dapat dihitung dengan rumus %(v/v) = Volume Komponen / Volume Campuran x 100%. Molaritas (M) menyatakan banyaknya mol zat terlarut dalam 1 kg pelarut. Rumus molaritas adalah M = Massa Zat x 1000 : Mr x V. Molalitas (m) menyatakan banyaknya mol zat terlarut dalam 1 kg pelarut. Molalitas dapat dihitung dengan rumus m = Massa Zat Terlarut x 1000 : Mr x p (Keenan,1990).
Proses pengenceran adalah mencampur larutan pekat (konsentrasi tinggi) dengan cara menambahkan pelarut agar diperoleh volume akhir yang lebih besar. Jika suatu larutan senyawa kimia yang pekat diencerkan, kadang-kadang sejumlah panas dilepaskan. Hal ini terutama dapat terjadi pada pengenceran asam sulfat pekat. Agar panas ini dapat dihilangkan dengan aman, asam sulfat pekat yang harus ditambahkan ke dalam air, tidak boleh sebaliknya. Jika air ditambahkan ke dalam asam sulfat pekat, panas yang dilepaskan sedemikian besar yang dapat menyebabkan air mendadak mendidih dan meenyebabkan asam sulfat memercik. Jika kita berada di dekatnya, percikan asam sulfat ini merusak kulit (Brady,1994).
Titrasi merupakan penambahan secara cermat volume larutan yang mengandung zat yang konsentrasinya diketahui, yang akan mengakibatkan reaksi antara keduanya secara kuantitatif. Selesainya reaksi yaitu pada titik akhir ditandai dengan semacam perubahan fisis. Perubahan fisis teersebut misalnya warna campuran reaksi yang tidak berwarna dengan menambahkan zat yang disebut indikator. Indikatorlah yang mengubah warna pada titik akhir. Indikator adalah zat warna yang perubahan warnanya tampak jelas dalam rentang pH yang sempit (Oxtoby,2001).
Salah satu reaksi yang sering digunakan dalam titrasi adalah netralisasi asam-basa. Biasanya, sebagai larutan asam diletakkan pada erlemeyer atau gelas kimia. Indikator adalah suatu zat yang mempunyai warna yang berlainan dalam keadaan asam dan basa. Misalnya, lakmus dalam suasana asam akan berwarna merah, sedangkan dalam keadaan basa warnanya biru. Indikator lain yang biasa juga digunakan adalan phenophtalein, yang dalam suasana asam tidak berwarna dan dalam keadaan basa berwarna merah muda (Brady,1994).
DAFTAR PUSTAKA
Brady, J E. 1994. Kimia UniversitasAsas dan Struktur Jilid I. Terjemahan dari University Chemistry Principles and Structure, oleh Aloysius Hadyana Pudjaatmaka. Erlangga, Jakarta.
Day, Underwood. 1999. Kimia Analisa Kuantitatif. Erlangga, Jakarta.
Keenan, C W, dkk. 1990. Ilmu Kimia untuk Universitas Jilid I, Edisi Keenam. Terjemahan dari Chemistry for University, oleh Aloysius Hadyana Pudjaatmaka. Erlangga, Jakarta.
Oxtoby, D W, dkk. 2001. Prinsip-Prinsip Kimia Modern Jilid I, Edisi keempat. Terjemahan dari Principles Of Modern Chemistry, oleh Suminar Setiadi Achmadi. Erlangga, Jakarta.
